Photobucket

Selasa, 24 April 2012

Novel Gadis Portugis

Pada abad keenam belas, Kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaannya di tangan sang raja besar dan karismatik, Sultan Hasanuddin! Di bawah kekuasaannya, Pelabuhan Makassar menjadi bandar internasional yang sangat ramai. Berbagai suku bangsa, seperti Portugis, Spanyol, Inggris, Cina, Arab, dan Melayu hidup serta menetap di sana. Kondisi ekonomi Gowa demikian makmur.

Dan, tahukah Anda bahwa salah satu pahlawan yang berdiri di balik kejayaan tersebut adalah peran penting Karaeng Caddi, seorang pemuda pintar dan gagah berani, putra bangsawan Karaeng Pallangga. Kendati pun masih muda, tapi telah beberapa kali ia dipercaya sang Sultan memadamkan pemberontakan di daerah-daerah taklukkan Gowa.

Selain ketangkasannya dalam berperang, ia juga luwes bergaul dengan pembesar-pembesar dan konglomerat-konglomerat dari berbagai bangsa. Sampai akhirnya, ia dipertemukan dengan putri seorang pembesar dari Portugis yang bernama Elis Pareira. Benih-benih cinta pun muncul di antara mereka. Saking kuatnya debaran-debaran perasaan tersebut, Karaeng Ceddi melanggar batas-batas adat-istiadat yang telah dipegangnya bertahun-tahun dengan melakukan hubungan asmara secara sembunyi-sembunyi.

Lantas, apa yang terjadi kemudian? Terutama saat perang besar meletus antara Gowa dengan Belanda yang dibantu Bone, Butung, Bacan, Tidore, dan Ambon?

Penulis novel ini yang memiliki pengalaman panjang sebagai seoang jurnalis, baik di dalam negeri maupun di mancanegara, meramu kisah di dalam novel ini dengan penuh kesabaran. Bahkan pembaca seolah-oleh dibawa mengimajinasikan suasana dan konflik yang terjadi di abad keenam belas tersebut.

Inilah novel yang berhasil meramu unsur heroisme dan cinta dalam setting sejarah Makassar dengan sangat menarik! Saat geletar-geletar cinta itu tumbuh, genderang perang tiba-tiba terdengar demikian keras dan mengerikan.(rul).

 Judul: Gadis Portugis
Penulis : Mappajarungi Manan
Ukuran : 14x20cm
Terbit : Juli 2011
Penerbit : Najah
Harga : Rp. 50.000

0 komentar:

Posting Komentar